
Bagaimana belajar memahami agama
Dulu waktu kecil, saat disuruh belajar, anak kecil sering harus dibujuk dulu dengan hadiah, diiming2 sesuatu, entah hanya cuma berupa permen, uang jajan, sepatu baru ataupun sepeda.. kadang juga ditakuti takuti, bila tidak mau belajar..akan dicubit, nanti tidak naik kelas atau tidak bisa sukses dan lain lain.
kala beranjak remaja, si anak semakin mengerti akan kewajjiban, ia menjalankan kewajiban untuk kebutuhan dan kepentingannya sendiri, ia mengerti bahwa pelajar berkewajiban belajar untuk bekal kehidupannya sendiri, tanpa lagi perlu disuruh atau di iming2 hadiah dan ditakuti oleh orang tuanya
Saat dewasa, pemahamanpun bertambah, si anak yg telah dewasa melihat semua kasih sayang orang tua lebih besar, dia akan melakukan apapun untuk membalas budi, menyayangi dan mencintai orang tuanya, bukan untuk dirinya sendiri
Belajar memahami agama pun demikian,, seperti tingkatan
Saat pemahaman kita masih terbatas tentang agama, seperti anak kecil, perlu dibujuk dengan hadiah..pahala dan ditakuti dengan siksa
Saat pemahaman sudah beranjak bertambah dan semakin paham, hamba akan menjalankan kewajiban tanpa harus disuruh, dibujuk dan ditakuti, karena kewajiban yang dijalankan baik perintah atau larangan, merupakan kepentingan dan kebutuhannya sendiri
Saat dewasa, pemahaman akan benar2 merubah cara pandang, bahwa Allah sangat maha kasih sayang, memberikan nikmat terus menerus tanpa putus, karunia yang tidak akan bisa dihitung, rahmat dan anugrah yang tidak pernah berhenti.
saat itu manusia sadar, bahwa ibadah apapun yg dilakukan tidak akan sebanding dengan karuniaNYa, bahkan kemampuan menjalankan ibadah itu sendiripun juga merupakan pemberian dan anugrah.
Alih-alih memikirkan balasan pahala dari ibadah yang dilakukan, sang hamba yang telah sadar akan merasa sangat malu, tidak ada yang bisa diucapkan, kecuali rasa syukur yg terus menerus berada dalam qalbu, keyakinan yg tak tergoyahkan..menghadirkan rasa ketenangan dan ketentraman bersama Allah,, dalam kondisi apapun, sedih, susah, gembira, lapang, sempit,, qalbunya tetap mampu melihat segala kebaikan Tuhan, hikmah dan nikmat yg tercurah dalam semua realitas takdir.
Disini hamba akan melihat cinta Allah kepada dirinya, ibadah yg dilakukan hanya ibarat hadiah..yang tidak akan mungkin dibandingkan dengan luas karunia dan cinta Allah kepadanya..
Maka segala kebaikan, ibadah yang diperintahkan akan didasari oleh rasa cinta dan syukur kepada Allah, lidahnya akan kelu dan bahkan lisan hatinyapun tidak akan mampu untuk mengklaim amal ibadah yg dilakukan adalah miliknya
hamba inipun akan cenderung diam..dan tidak ingin orang lain melihat kebaikan dan ibadahnya, karena selalu merasa tenang, damai bersamaNya ditempat sepi ataupun ramai.